Wednesday, October 17, 2007

Stay Hungry, Stay Foolish (2)

0 comments
Cerita kedua tentang cinta dan kehilangan.

Saya beruntung bahwa saya mengetahui apa yang ingin saya lakukan sejak awal. Woz dan saya memulai Apple di garasi rumah saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami berdua bekerja keras dan dalam sepuluh tahun Apple berkembang dari hanya dua orang dalam sebuah garasi menjadi perusahaan bernilai $2 milyar dengan lebih dari 4000 pekerja.

Kami baru merilis ciptaan terbaik kami – Macintosh - setahun sebelumnya, di mana saat itu saya baru berusia 30 tahun. Akan tetapi kemudian saya dipecat. Bagaimana mungkin anda dipecat oleh perusahaan yang dibangun oleh anda sendiri? Well, dengan berkembangnya Apple kamu mempekerjakan orang-orang yang saya pikir sangat berbakat untuk menjalankan perusahaan dengan saya, dan untuk tahun-tahun pertama semuanya berjalan dengan sangat baik. Akan tetapi visi kami tentang masa depan menjadi berbeda dan kadang-kadang ini semua menjatuhkan kami. Sehingga akhirnya Dewan Direktur memutuskan berpihak kepadanya. Sehingga saat berusia 30 saya dipecat dan berita ini terpublikasi ke khalayak ramai. Apa yang menjadi fokus hidup saya hilang, dan itu semua sangatlah menghancurkan saya.

Saya benar-benar tidak mengetahui apa yang harus saya lakukan untuk beberapa bulan. Saya merasa bahwa saya telah membiarkan generasi pengusaha sebelumnya runtuh. Saya bertemu dan meminta maaf kepada David Packard dan Bob Noyce. Kesalahan saya sudah diketahui oleh publik, sehingga melarikan diri dari valley pun tidak ada artinya. Kemudian, saya pun tersadar akan sesuatu: saya masih cinta apa yang saya lakukan. Peralihan yang terjadi di Apple tidak mempengaruhi pemikiran tersebut. Saya memang dipecat, tetapi saya masih mencintai bidang ini. Maka saya pun memutuskan untuk memulainya kembali.

Di kemudian hari, saya merasakan bahwa pemecatan saya oleh Apple merupakan hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya. Beban untuk menjadi sukses digantikan oleh langkah yang ringan sebagai seorang pemula lagi, sedikit keyakinan terhadap segala sesuatu. Hal tersebut membuat saya memasuki salah satu periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun selanjutnya, saya memulai sebuah perusahaan yang diberi nama NeXT dan Pixar, dan saya pun jatuh cinta kepada seorang wanita yang mempesona yang kemudian menjadi istri saya.

Pixar kemudian memulai untuk menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang menjadi studio animasi film terbaik di dunia. Kemudian terjadi peralihan yang luar biasa, Apple membeli NeXT, saya kembali ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung teknologi Apple saat ini. Dan Laurene dan saya mempunyai sebuah keluarga yang bahagia.

Saya yakin semua tidak akan pernah terjadi jika saya tidak dipecat oleh Apple. Ini merupakan obat mujarab yang sangat pahit, tapi setiap pasien membutuhkannya, saya pikir. Kadang-kadang kehidupan menghancurkan anda dengan amat kejam. Jangan hilang kepercayaan. Saya yakin bahwa satu hal yang bisa membuat saya bertahan adalah bahwa saya mencintai apa yang saya lakukan. Kita harus mencari apa yang sebenarnya kita cintai. Dan adalah benar bahwa pekerjaan kita adalah kekasih kita. Pekerjaan kita akan mengisi sebagian besar hidup kita. Dan satu-satunya jalan untuk bisa mencapai kepuasan sejati adalah melakukan apa yang kamu yakini adalah kerja yang hebat. Dan satu-satunya jalan melakukan kerja yang hebat adalah mencintai apa yang kamu lakukan. Jika kita belum menemukannya, carilah! Jangan diam! Karena ini semua berhubungan dengan hati, kita akan mengetahuinya ketika kita menemukannya. Dan seperti sebuah hubungan yang hebat, hal itu akan menjadi lebih baik dan lebih baik dengan bergulirnya waktu. Jadi, tetaplah mencarinya sampai kalian menemukannya. Jangan diam!
bersambung....
Read full post »

Stay Hungry, Stay Foolish (1)

0 comments
Lagi asik2nya ngaduk2 isi hard-disk laptop, tiba2 nemuin 'harta karun' yang lama sempet hilang. Tulisan memikat yang 'SANGAT MEMBAKARR' dan INSPIRASIONAL, yaitu pidato legendaris dari Steve Jobs -- Stay Hungry, Stay Foolish-- pada acara wisuda di Universitas Stanford.

Alhamdulillah, membaca kembali pidato dari orang hebat ini, bener2 bikin motivasi dan keyakinan saya terbakar kembali.
Karena itu, saya ingin sekali men-share pidato beliau yang menginspirasi ini kepada temen2.
Ehm, berhubung pidato ini agak panjang, dan supaya temen2 gak kecapekan bacanya, maka saya membagi pidato ini dalam tiga postingan.

Baiklah, berikut ini saya copy-paste bagian pertama pidato beliau ini.

Selamat Membaca dan Terbakar!!
------------

STAY HUNGRY – STAY FOOLISH

Saya merasa terhormat bersama kalian hari ini dalam acara wisuda salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah diwisuda. Sejujurnya saya katakan, saat ini merupakan saat-saat terdekat saya pada sebuah acara wisuda. Hari ini saya ingin menceritakan kepada kalian 3 cerita pendek hidup saya. Hanya itu. Biasa-biasa saja. Hanya 3 cerita.

Cerita pertama tentang Penghubungan momen-momen.

Saya drop out dari Reed College setelah enam bulan pertama, tetapi saya tetap berada di lingkugan kampus selama kurang lebih 18 bulan sebelum saya benar-benar memutuskan untuk berhenti. Mengapa saya dropout?

Ini dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah seorang mahasiswi muda sebuah perguruan tinggi yang hamil di luar nikah dan dia memutuskan saya untuk diadopsi. Dia mempunyai keinginan yang kuat bahwa saya harus diadopsi oleh pasangan lulusan sebuah universitas, jadi segala sesuatunya sudah disiapkan dari awal bahwa saya akan diadopsi sejak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya.

Selain itu, ketika saya dilahirkan mereka memutuskan bahwa mereka sangat menginginkan seorang bayi perempuan di menit-menit terakhir. Sehingga orangtua angkat saya, yang menunggu giliran, mendapat telepon di tengah malam:
"Kami mempunyai seorang bayi lelaki yang tidak diharapkan, apakah kamu menginginkannya?"
Mereka menjawab: "tentu!".
Ibu kandung saya kemudian mengetahui bahwa ibu saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah saya tidak lulus SMA. Dia kemudian menolak untuk menandatangani perjanjian adopsi. Meskipun, akhirnya hatinya luluh ketika orangtua saya berjanji bahwa saya akan kuliah suatu hari nanti.

17 tahun kemudian, saya memang benar-benar kuliah. Waktu itu saya yang masih naif, memilih perguruan tinggi yang biaya pendidikannya hampir sama dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan yang dimiliki oleh orang tua saya habis untuk membiayai kuliah saya. Setelah enam bulan, saya tidak melihat bahwa hal ini sebegitu bernilainya. Sama sekali saya tidak tau apa yang sebenarnya ingin saya lakukan dalam hidup dan tidak tahu apakah kuliah akan menolong saya untuk menjawab itu semua. Di lain pihak, saya menghabiskan seluruh uang yang orang tua saya tabung sepanjang hidup mereka. Sehingga saya memutuskan untuk keluar dan mencoba untuk menguatkan diri bahwa apa yang saya lakukan tidak salah. Cukup menakutkan waktu itu, tetapi jika saya mengenang kembali, itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Saat saya memutuskan untuk keluar, saya dapat berhenti mengambil kelas-kelas yang tidak menarik perhatian saya,dan hanya menghadiri kelas yang benar-benar menarik.

Akan tetapi, tidaklah semuanya romantis. Saya tidak tinggal di asrama, sehingga harus tidur di lantai teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Cola untuk ditukar dengan 5 sen yang akan saya gunakan untuk membeli makanan, dan saya akan berjalan sejauh 7 mil (+/- 10km) menuju kota lain setiap minggu malam untuk memperoleh makanan yang baik di candi Hare Krishna. Saya sangat menyukainya. Kejadian-kejadian di mana saya menemui sandungan untuk mengikuti apa kata hati saya menjadi sesuatu yang tidak dapat dinilai dengan uang nantinya.
Saya berikan satu contoh:
Saat itu, Reed College menawarkan kuliah kaligrafi yang mungkin merupakan yang terbaik di negara ini. Di sepanjang kampus tiap poster dan label yang dibuat sangatlah indah. Oleh karena saya drop out dan tidak mengikuti kelas normal, saya memutuskan untuk mengambil kelas kaligrafi untuk belajar bagaimana membuat itu semua.

Saya belajar tentang tipe-tipe serif dan san serif, variasi jumlah spasi yang diperlukan di antara kombinasi-kombinasi huruf yang berbeda, dan juga tentang apa yang membuat tipografi sangat megah. Itu semua sangatlah indah, bersejarah, dan artistik di mana science tidak dapat menangkap itu semua, dan saya kira itu semua sangatlah menakjubkan.

Tidak satu pun dari ini semua memiliki setidaknya harapan untuk menjadi sesuatu yang berguna bagi hidup saya. Akan tetapi sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendesain komputer Macintosh pertama, semuanya seperti datang kembali kepada saya. Dan saya mendesain semuanya ke dalam Mac. Komputer itu merupakan komputer pertama yang didesain dengan tipografi yang indah. Jika saya tidak pernah mengambil kuliah itu sewaktu di kampus, Mac tidak akan mungkin mempunyai beragam tipe huruf atau spasi huruf-huruf yang proporsional. Dan semenjak Windows mengkopi Mac, sepertinya tidak ada PC yang memiliki hak milik itu semua. Jika saya tidak pernah drop out, saya tidakakan pernah mengikuti kuliah kaligrafi dan PC mungkin tidak akan pernah memiliki tipografi yang indah. Tentu saja sangatlah mustahil untuk menghubungkan semua momen-momen di masa depan ketika saya masih di kampus. Tetapi sangat, sangat jelas ketika saya menghubungkannya sepuluh tahun kemudian.

Lagi-lagi anda tidak akan pernah dapat menghubungkan momen-momen itu ke depan, anda hanya dapat menghubungkan itu semua dengan melihat ke belakang. Anda harus percaya kepada sesuatu -keberanian anda, takdir, hidup-mati, karma, apapun itu. Pendekatan ini tidak pernah membuat saya menyerah, akan tetapi membuat seluruh perubahan dalam hidup saya.
bersambung.....
Read full post »

Tuesday, October 16, 2007

Mohon Maaf Lahir dan Bathin

0 comments
Alhamdulillah. Gak kerasa bulan Ramadhan telah berganti dengan bulan Syawal. Berakhir sudah bulan yang penuh berkah dan rahmat. Bulan yang agung. Bulan dimana tidurnya kita menjadi pahala. Bulan dimana setiap perbuatan baik kita mendapatkan pahala berpuluh kali lipat. Bulan dimana setiap helaan nafas kita bisa menjadi ibadah. Bulan dimana Al-Quran diturunkan. Bulan dimana pintu surga dibuka selebar-lebarnya dan pintu neraka ditutup rapat. Bulan dimana terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam Lailatul Qadar.

Dan seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, saya (lagi-lagi) gak terpilih menjadi salah satu hamba-NYA yang beruntung, yang mendapatkan kenikmatan malam Lailatul Qadar itu...hiks...

Yah, dengan kuantitas & kualitas ibadah saya, gak aneh sih kalo saya belum diijinkan dan diridhai Allah SWT untuk mendapatkan malam yang mulia tersebut. Sungguh sedikit sekali amal ibadah yang telah saya lakukan di bulan Ramadhan ini. Masih banyak detik-detik di bulan Ramadhan yang saya lewatkan dengan kehampaan, tanpa makna dan tak mengandung nilai tambah. Dari lima waktu shalat, hanya dua waktu shalat saja yang rutin saya laksanakan di mesjid. Dan untuk enam tahun berturut-turut, saya kembali gagal mengkhatamkan Al-Quran selama bulan Ramadhan *what a horrible record!!*.


Well, sudah sangat jelas bahwa ‘raport’ saya di ramadhan ini nampaknya masih merah. Dengan rekor mengerikan seperti di atas, saya hanya bisa dengan rendah hati berharap dan memohon kepada Allah SWT agar saya masih diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan...*Amin ya Robb..*

Dan saya juga berdoa semoga semua amal ibadah saya --sesedikit apapun itu-- selama bulan Ramadhan ini diridhai dan diterima Allah SWT. Semoga Allah SWT tidak menjadikan puasa saya hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, sedangkan maknanya tidak saya dapati..

Akhirul kalam, buat temen-temen, izinkan saya dan keluarga untuk mengucapkan :

Taqabbalallahu minna wa minkum,
Shiyamana wa Shiyamakum,
Kullu’aamin wa Antum Bikhoirin,
Minal Aidin wal Faidzin

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
1 SYAWAL 1428 H

Mohon Maaf Lahir dan Bathin...
Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima Allah SWT,
Dan semoga semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan menjadikan kita menjadi muslim yang lebih baik lagi...Amien..
Read full post »

Monday, September 03, 2007

Bangsa Gila Gelar

1 comments
Sejak dahulu kala, bangsa kita ini dikenal sebagai bangsa yang mendewakan gelar. Zaman dulu, orang2 akan sangat bangga dengan gelar yang terkait dengan kebangsawanan seperti Raden, Raden Ajeng, dsb. Pada waktu itu, orang bergelar bangsawan mendapat tempat tertinggi dalam kasta masyarakat, tidak perduli apakah moralnya rendah atau mempunya IQ tiarap sekalipun, orang2 tetap mesti membungkuk hormat ketika berpapasan dengan mereka di jalan.

Lalu adalagi contoh bagaimana masyarakat begitu dibutakan oleh makhluk bernama ‘Gelar’ ini. Kali ini gelar yang terkait dengan keagamaan seperti Haji, Kyai, dan lain sebagainya. Seringkali saya melihat realitas dimana masyarakat menempatkan orang2 bergelar tinggi ini sebagai manusia setengah dewa (atau setengah tuhan??), yang setiap perkataannya harus dituruti dan ditelan bulat2, tanpa boleh dipertanyakan. Mengabaikan perkataan orang ini niscaya pintu surga akan tertutup buat mereka. Mempertanyakan perkataan orang ini maka ia akan dicap sebagai orang yang kurang iman.

Gimana dengan ‘gelar’ yang berasal dari kemiliteran?? Idem ditto.
Perhatiin aja gimana arogannya orang2 berpangkat ketika memperlakukan orang yang dia anggap lemah dan berstatus sosial di bawahnya. Yang luar biasa, khusus untuk ‘gelar’ militer ini, arogansi tidak hanya dimiliki orang2 yang pangkatnya tinggi saja, tapi juga semua strata memiliki arogansi yang beti (beda tipis). Tentunya kita tidak bisa menggeneralisir, masih cukup banyak juga kok orang2 militer yang punya kepribadian rendah hati.

Begitu juga dalam hal tingkat pendidikan. Di sini, gelar pendidikan juga berarti status sosial. Dalam strata sosial, seorang lulusan SD (biasanya) dipandang lebih rendah dibanding seorang lulusan SMP. Begitu seterusnya, lulusan S2 dianggap memiliki kedudukan sosial yang lebih ‘mulia’ dibandingkan seorang lulusan S1.

Karena alasan tersebut, maka menjadi seorang lulusan S2 di Indonesia ini ternyata menjadi serba salah posisinya. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka ladang untuk mengamalkan ilmunya bukannya semakin luas, justru malah semakin sempit. Dengan ‘status’ yang begitu tinggi di masyarakat, maka seorang lulusan S2 HANYA pantas bekerja pada bidang atau posisi tertentu saja.
Karena itu, akan aneh jadinya bila ada seorang bergelar MBA ternyata memutuskan untuk berjualan soto ayam setelah lulus kuliah. Seorang MBA juga ‘tidak boleh’ berjualan telur di pasar, karena (konon katanya) itu hanya akan bikin malu orang tuanya saja. Seorang lulusan S2 yang bekerja di perusahaan atau bekerja sebagai PNS, posisinya jauh lebih ‘terhormat’ di mata masyarakat dibanding seorang lulusan S2 yang berjualan soto ataupun telur di pasar.

Fakta yang tidak diketahui kebanyakan orang adalah, bahwa di kepala MBA yang berjualan soto tersebut MUNGKIN telah terpetakan grand design rencana hidupnya untuk menjadi seorang pengusaha restoran bertaraf internasional. Atau dalam kepala si MBA penjual telur itu MUNGKIN tercetak visi untuk menyumbang devisa dengan menjadi eksportir telur kualitas unggul.

Untuk membangun sebuah istana yang megah tentunya harus diawali dengan meletakkan bata pertama. Untuk bisa memindahkan gunung diawali dengan memindahkan satu sekop tanah pertama. Dimana kondisi dan posisi kita saat ini bukanlah hal terpenting. Yang lebih penting lagi adalah dimana tujuan kita nanti.

Ironisnya adalah, paradigma seperti ini terjadi dalam sebuah negara yang (katanya) termasuk negara muslim terbesar di dunia, dimana seharusnya sebagian besar penduduknya yang beragama muslim benar2 menyadari bahwa yang membedakan seseorang dengan orang lain adalah ketakwaannya kepada Allah SWT. Orang berdarah biru dan berdarah merah sama-sama memiliki kewajiban shalat 5 kali dalam satu hari. Pak Kyai dan Pak Petani sama-sama wajib melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Seorang lulusan S2 dan seorang lulusan SD sama-sama berkewajiban untuk mengamalkan (semampunya) ilmu yang dia miliki demi kemaslahatan orang banyak.

Ilmu memang bisa mengangkat derajat seorang manusia, tetapi itu bukan pembenaran bagi orang2 yang berpendidikan/berilmu tinggi untuk merasa diri memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding orang lain. Ibarat sebuah pisau, ilmu bisa mengangkat derajat pemiliknya jika digunakan untuk hal2 positif, untuk memasak misalnya, ataupun untuk membantu sesama. Tetapi jika digunakan untuk menyakiti orang lain, pisau itu justru menjerumuskan dan merendahkan derajat pemiliknya.

Well, enough talking. Makin lama kayaknya makin gak fokus deh tulisannya:-)

Inti tulisan ini sebenarnya adalah hanya bentuk ungkapan kekecewaan saya terhadap paradigma (sebagian besar) masyarakat Indonesia yang terlalu silau dan mendewakan berbagai gelar. IMHO, mindset seperti ini gak akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang lebih maju (CMIIW).
Sebagai penutup, saya kutip kalimat dari Carol S Dweck dalam bukunya yang berjudul “Change Your Mindset, Change Your Life” :
“Jika menginginkan perubahan kecil, garaplah perilaku anda. Jika menghendaki perubahan besar dan mendasar, garaplah mindset anda”.
Read full post »

Friday, August 24, 2007

Why Do We Do It?

0 comments
Saying someone is stupid,
doesn’t make you any smarter.

Saying someone is ugly,
doesn’t make you any prettier.

Saying someone is fat,
doesn’t make you any skinnier.

Making fun of someone,
Doesn’t make you any better.

So...Why do we do it??


(Unknown)
Read full post »

Wednesday, July 18, 2007

Tatiitt... :-(

1 comments
Ternyata kombinasi pilek, batuk dan sariawan bukanlah kombinasi yang menyenangkan buat orang ganteng dan pintar seperti saya (Mode Narsis : ON)

Bayangin aja, kombinasi ketiga penyakit ‘remeh temeh’ itu udah membuat saya gak enak tidur karena terus menerus terganggu batuk sepanjang malam, gak enak makan karena rasa perih tiap kali ada setitik makananan bergesekan dengan bibir saya, dan gak enak ati karena ngabisin tisu tetangga kostan buat nyumbat hidung yang terus2an meler...

Tapi dibalik setiap kesulitan selalu ada hikmahnya, penyakit yang kita alami bisa jadi adalah sarana penggugur dosa2 kecil kita di dunia. Insya 4JJ dengan nikmat sakit ini, dosa2 kecil saya terhapus...Amien.. :-D

Huaaaattttt....ciiiihhhh....!!!!!
Read full post »

Wednesday, July 11, 2007

Mirip Berarti Jodoh??

5 comments
“Eh, wajah kalian berdua kok mirip ya?? Wah...berarti kalian berdua memang jodoh lho..”

Sounds familiar??

Seandainya ada orang yang berkomentar seperti itu ketika berpapasan dengan saya dan pacar saya, perasaan saya pasti bakalan berbunga-bunga. Dan mungkin itu juga yang dirasain pacar saya. Mungkin. (Efeknya mungkin akan berbeda 180 derajat buat pasangan yang udah bertahun2 menikah :-p)

Komentar seperti itu emang udah jadi semacam ‘pujian’ standar buat sepasang sejoli yang sedang dimabuk cinta (halah!). Terlepas itu mungkin hanya sekedar basa basi busuk atau memang benar2 tulus memuji dari hati yang paling dangkal...eh, dalam maksudnya, komentar seperti itu akan membuat orang yang dikomentari terbang tinggi.
Komentar seperti itu juga mungkin akan membuat pikiran sang cewek tiba2 meloncat ke sebuah acara pernikahan yang megah dan sakral, lalu loncat lagi ke sebuah tempat romantis dimana dia dan pasangan serta 2 orang anaknya yang lucu2 sedang bermain dan bercanda ria dalam gerakan slow motion ala film2 hollywood (diiringi background pandangan kagum dan iri dari orang2 sekitar), kemudian meloncat lagi pada adegan dimana dia dan pasangan dalam versi yang jauh lebih tua (tetapi tetep cantik tentunya) sedang asik duduk dan tertawa di beranda rumah dikelilingi oleh anak dan cucunya.

Okeh, kembali ke lap....toooooop.
Apa iya ada kaitan antara kemiripan wajah sama jodoh??
Apa iya orang yang bentuk wajahnya lonjong akan berjodoh sama orang berwajah lonjong juga?
Apa iya orang bermata sipit gak mungkin berjodoh sama orang yang matanya belok?

Well, IMHO, kepercayaan ataupun teori yang mengkaitkan kemiripan wajah dengan jodoh ini adalah sama sekali gak bener, gak ilmiah dan gak bisa dipertanggung jawabkan. Kenapa?? Setidaknya ada tiga alasan saya :

Pertama, sampai detik ini saya belum menemukan satupun data hasil penelitian ilmiah yang membuktikan kebenaran teori ini.

Kedua, saya juga gak pernah mendengar atau membaca satupun riwayat hadits yang bisa mendasari kepercayaan seperti ini.

Dan ketiga, masa sih saya berjodoh sama Brad Pitt?? yang bener aja!! :-p

So, menurut saya kepercayaan seperti ini tuh gak lebih dari mitos konyol yang maksa banget...nget....nget...nget...
Walaupun mungkin ada beberapa pasangan suami istri yang KEBETULAN punya kemiripan dalam hal struktur wajah mereka, tentunya mereka berjodoh bukan disebabkan faktor itu. Yang pasti itu udah dituliskan 4JJ SWT di Lauhul Mahfuzh, it called TAKDIR :-)

Ehm, tetapi seandainya suatu saat nanti ternyata ada yang bisa 100% membuktikan kebenaran teori/kepercayaan ini, saya pasti bakal bela2in nyari duit yang banyak buat biaya operasi plastik biar wajah saya mirip Dian Sastro atau Sigi Wimala :-D
Read full post »
 

Copyright © CARPE DIEM!!! Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger